Pemetaan Persebaran dan Trendline Kasus Tuberkulosis Di Wilayah Gunungkidul

Penulis

  • Hendra Rohman Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia image/svg+xml
  • Hieronymus Kidung Enjang Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia Yogyakarta , Poltekkes Bhakti Setya Indonesia, Yogyakarta Special Region, Indonesia
  • Oni Noviandi Kusuma Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia Yogyakarta , Poltekkes Bhakti Setya Indonesia, Yogyakarta Special Region, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.56727/4487hb11

Kata Kunci:

pemetaan penyakit, pengumpulan data rekam medis, SITB, tuberkulosis paru

Abstrak

Terjadi peningkatan kasus TB di wilayah Gunungkidul. Penemuan kasus TB di tahun 2019 2020, 2021, 2022, dan 2023 yaitu 360, 309, 248, 353, dan 528 kasus. Penelitian ini mengidentifikasi proses pengumpulan data kesehatan kasus TB, mengidentifikasi faktor penyebab kasus TB dan membuat pemetaan persebaran kasus TB. Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Variabel yaitu data kesehatan jumlah kasus TB dan faktor lingkungan. Aplikasi QGIS 3.34 digunakan untuk membuat peta persebaran penyakit TB. Proses pengumpulan data TB di Dinkes Kabupaten Gunungkidul dan puskesmas sudah dilakukan secara elektronik dan online menggunakan sistem informasi berbasis web yaitu SITB, namun di puskesmas juga masih ada yang menggunakan buku register TB yaitu TB 03 untuk validasi data yang sudah terinput ke dalam SITB. Kasus TB tertinggi terdapat di Kapanewon Wonosari sebanyak 89 kasus (18,68%). Terdapat faktor risiko yang mempengaruhi kejadian TB di Kapanewon Wonosari dan Playen. Faktor kepadatan penduduk di Wonosari 1.158,18 per km2, dan Playen 575,93 per km2. Faktor risiko suhu rata-rata 26,0 °C. Faktor risiko curah hujan rata-rata 244,04 mm. Faktor ketinggian tempat rata-rata 254 mdpl. Faktor kelembaban udara rata-rata 83%. Persebaran kasus TB paru tertinggi berada di Kelurahan Kepek (2,08%), Kelurahan Bleberan dan Ngawu, masing-masing (1,14%). Kategori TB ekstra paru tertinggi berada di Kelurahan Karangtengah (0,38), dan di Kelurahan Bandung dan Gading, masing-masing (0,19%). Trendline kasus TB tahun 2019-2023 mengalami peningkatan dan penurunan setiap tahunnya. Penurunan kasus pada tahun 2020 (3,00%), pada tahun 2021 (3,22%). Kenaikan kasus pada tahun 2022 (5,83%), dan pada tahun 2023 (9,73%).  Program active case finding dan active case monitoring perlu dilakukan oleh dinkes dan stakeholder terkait.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Unduhan

Diterbitkan

2025-06-19

Cara Mengutip

Pemetaan Persebaran dan Trendline Kasus Tuberkulosis Di Wilayah Gunungkidul. (2025). Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Setya Medika, 9(1). https://doi.org/10.56727/4487hb11

Artikel Serupa

51-60 dari 61

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama